Categories
News

Keluh Mahal Uang Kuliah Tunggal Bag4

Lantaran tak sanggup membayar uang kuliah tunggal, sang ayah meminta Lia mengajukan permohonan banding ke kampus. Hasilnya? Ditolak. Pihak kampus, kata dia, hanya bisa memberikan dispensasi kepada mahasiswa tanpa orang tua atau orang tua yang tak punya pekerjaan. Muhammad Mashuri, Kepala Badan Pengembangan Strategis ITS, menjelaskan bahwa penerapan UKT maksimal itu lantaran program D-3 tersebut masuk program kemitraan dan mandiri, bukan program reguler.

”Itu sudah sesuai dengan aturan, yaitu peraturan Menteri Keuangan dan surat keputusan rektor,” kata Mashuri. Ditolaknya permohonan banding juga pernah menimpa Yudi. Mahasiswa program D-3 Komputer Kontrol di ITS ini malah sampai tiga kali mengajukan permohonan banding. Uang kuliah Rp 7,5 juta dirasa berat. Ayahnya hanyalah pensiunan sersan TNI Angkatan Darat.

Categories
Parenting

Founder Akademi Berbagi

Pada 2010, Ainun Niswati Chomsun (42) mempunyai keinginan untuk belajar kepada para praktisi di bidangnya masing-masing. Tapi sayang, mama dari Haiqa Matahati alias Kika (12) ini tak bisa menemukan tempat yang diharapkan. “Keba nyakan karena mahal atau bukan praktisi yang mengajar,” terangnya. Nah, karena di tahun itu ia melihat banyak praktisi dari berbagai latar keahlian bertwitter ria, “Saya memberanikan diri untuk menyapa dan meminta belajar dari mereka.”

Baca juga : tes toefl Jakarta

Ternyata, lanjutnya, mereka menyambut dengan baik. Setelah merasakan asyiknya mendapat pelatihan dari para pakarnya langsung, maka pada Juli 2010, ia berinisiatif mendirikan wadah untuk semua orang yang mau belajar apa pun dari pakarnya langsung, seperti: fotografi , menulis, advertising, dan masih banyak lainnya , dengan nama Akademi Berbagi . “Peserta dan pengajarnya, saya jaring dari Twitter. Begitu juga tempat pertemuan yang dipinjam secara gratis,” jelas Ainun. Sesuai dengan namanya, juga tujuannya untuk sosial, “Sejak pertama dimulainya kelas, Akademi Berbagi hingga sekarang tidak memungut biaya sepeser pun kepada peserta, juga tidak memberikan bayaran kepada pengajar.”

Walau serbagratis, semuanya mendapat manfaat nyata dan berharga. “Di Akademi Berbagi, saya dan semua yang terlibat, tanpa kecuali, mendapat networking luas, baik secara geografi s maupun strata.T %ahkan, tambah Ainun, jaringan Akademi Berbagai sekarang ini tak bisa dianggap sebelah mata; dari CEO, profesional, pengusaha, artis, mulai Aceh hingga Bali, sudah terkoneksi dengan Akademi Berbagi.

Gagasan Ainun mendirikan Akademi Berbagi membuktikan bahwa di Indonesia tak sedikit orang yang mau belajar banyak hal dan tak sedikit pula orang/praktisi ahli yang bersedia berbagi ilmu. “Sekarang Akademi Berbagi tidak saja ada di Jakarta, tapi juga di Aceh, Medan , Padang, Pelembang, Bekasi, Depok, Bandung, Semarang, Solo, Pekalongan, Malang, Labuan Batu, Pekan Baru. Pokoknya, sudah ada di 50 kota,” papar Ainun. Kelas Akademi Berbagi juga bertambah. “Sudah ada 1.000 kelas, 150 guru, dan 5.000 murid untuk seluruh Indonesia,” tambahnya. Ainun mengaku sangat senang dan bangga melihat Akademi Berbagi berkembang pesat.

Pasalnya, dari situ bisa lebih banyak lagi orang Indonesia yang dapat belajar, sehingga semakin banyak pula orang Indonesia yang memi liki kemampuan hebat sharing dengan sesama. Kiprahnya ini mendapat dukungan dari keluarga. “Saya sebenarnya besar di lingkungan keluarga yang senang berbagi. Ibu saya juga memiliki sekolah un tuk anak-anak tidak mampu dan aktif di organisasi sosial.” Dengan bahasa lain, melakukan aksi sosial sudah menjadi hal yang biasa bagi Ainun. Karena nyalah, Kika menurut Ainun, walau belum membantu aktivitas dirinya di Akademi Ber bagi, tapi sudah sering diajak-ajak dalam kegiatan Akademi Berbagi.

Sumber : pascal-edu.com