Categories
Parenting

Founder Akademi Berbagi

Pada 2010, Ainun Niswati Chomsun (42) mempunyai keinginan untuk belajar kepada para praktisi di bidangnya masing-masing. Tapi sayang, mama dari Haiqa Matahati alias Kika (12) ini tak bisa menemukan tempat yang diharapkan. “Keba nyakan karena mahal atau bukan praktisi yang mengajar,” terangnya. Nah, karena di tahun itu ia melihat banyak praktisi dari berbagai latar keahlian bertwitter ria, “Saya memberanikan diri untuk menyapa dan meminta belajar dari mereka.”

Baca juga : tes toefl Jakarta

Ternyata, lanjutnya, mereka menyambut dengan baik. Setelah merasakan asyiknya mendapat pelatihan dari para pakarnya langsung, maka pada Juli 2010, ia berinisiatif mendirikan wadah untuk semua orang yang mau belajar apa pun dari pakarnya langsung, seperti: fotografi , menulis, advertising, dan masih banyak lainnya , dengan nama Akademi Berbagi . “Peserta dan pengajarnya, saya jaring dari Twitter. Begitu juga tempat pertemuan yang dipinjam secara gratis,” jelas Ainun. Sesuai dengan namanya, juga tujuannya untuk sosial, “Sejak pertama dimulainya kelas, Akademi Berbagi hingga sekarang tidak memungut biaya sepeser pun kepada peserta, juga tidak memberikan bayaran kepada pengajar.”

Walau serbagratis, semuanya mendapat manfaat nyata dan berharga. “Di Akademi Berbagi, saya dan semua yang terlibat, tanpa kecuali, mendapat networking luas, baik secara geografi s maupun strata.T %ahkan, tambah Ainun, jaringan Akademi Berbagai sekarang ini tak bisa dianggap sebelah mata; dari CEO, profesional, pengusaha, artis, mulai Aceh hingga Bali, sudah terkoneksi dengan Akademi Berbagi.

Gagasan Ainun mendirikan Akademi Berbagi membuktikan bahwa di Indonesia tak sedikit orang yang mau belajar banyak hal dan tak sedikit pula orang/praktisi ahli yang bersedia berbagi ilmu. “Sekarang Akademi Berbagi tidak saja ada di Jakarta, tapi juga di Aceh, Medan , Padang, Pelembang, Bekasi, Depok, Bandung, Semarang, Solo, Pekalongan, Malang, Labuan Batu, Pekan Baru. Pokoknya, sudah ada di 50 kota,” papar Ainun. Kelas Akademi Berbagi juga bertambah. “Sudah ada 1.000 kelas, 150 guru, dan 5.000 murid untuk seluruh Indonesia,” tambahnya. Ainun mengaku sangat senang dan bangga melihat Akademi Berbagi berkembang pesat.

Pasalnya, dari situ bisa lebih banyak lagi orang Indonesia yang dapat belajar, sehingga semakin banyak pula orang Indonesia yang memi liki kemampuan hebat sharing dengan sesama. Kiprahnya ini mendapat dukungan dari keluarga. “Saya sebenarnya besar di lingkungan keluarga yang senang berbagi. Ibu saya juga memiliki sekolah un tuk anak-anak tidak mampu dan aktif di organisasi sosial.” Dengan bahasa lain, melakukan aksi sosial sudah menjadi hal yang biasa bagi Ainun. Karena nyalah, Kika menurut Ainun, walau belum membantu aktivitas dirinya di Akademi Ber bagi, tapi sudah sering diajak-ajak dalam kegiatan Akademi Berbagi.

Sumber : pascal-edu.com

 

Categories
Parenting

Jika Tak Setuju Cium Bibir

Memang tak semua keluarga menyetujui cium di bibir antara orangtua dan anak. Namun jika hal ini terjadi oleh si kecil Mama, jangan langsung bereaksi negatif, ya. Sebab, reaksi yang Mama berikan merupakan sumber “pelajaran” yang akan diserap si kecil dan dapat memengaruhi pemahamannya kelak mengenai perilaku cium di bibir dan ekspresi kasih sayang. Baiknya Mama Papa bertanya terlebih dahulu, kenapa anak ingin dicium di bibir. Hal ini dilakukan untuk membantu orangtua mengetahui alasan anak menginginkan perilaku tersebut.

Sebab, orangtua tidak melakukan hal yang sama dan tidak mengajarkan perilaku tersebut kepada si kecil. Orangtua juga perlu mengetahui darimana anak mengetahui perilaku tersebut. Tujuannya, untuk mengetahui paparan informasi yang telah ditangkap oleh anak, apakah mungkin orangtua sendiri yang tanpa sengaja memaparkan informasi tersebut atau media yang melakukannya, sehingga orangtua dapat mulai membatasi diri dan paparan media dari anak-anak.

Info ini berguna selain untuk mengetahui kebutuhan afeksi anak, juga untuk mendeteksi ada kah orang lain (selain orangtua) yang melakukan hal itu kepada anak, sehingga anak ingin mendapatkan pengulangan perilaku cium yang pernah didapatkan. Jika ternyata anak pernah mendapatkan perlakuan tersebut dari orang lain di luar keluarga inti, penting bagi orangtua untuk membatasi membantasi kontak fisik orang luar (di luar orangtua) dengan anak tanpa pengawasan orangtua.

Ketika menolak permintaan anak, jangan melakukannya dengan kasar, apalagi menunjukkan ekspresi kurang baik. Sampaikan dengan perlahan dan logis serta penuh kasih sayang bahwa perilaku itu berbahaya karena dapat mengganggu kesehatan. Beri tahu si kecil, bakteri pembawa penyakit tidak tampak oleh mata biasa, sehingga orang yang tampak sehat pun sebenarnya bisa membawa kuman penyakit. Jangan lupa mengajari anak bahwa tidak mencium anak di bibir bukan berarti orangtua tidak sayang, tapi rasa sayang bisa ditunjukkan dengan perilaku lain secara verbal (umpama, dengan mengatakan, “Mama sayang Adek,”) atau secara non-verbal yang lain (seperti: membelai, memeluk, merangkul, dan sebagainya).

Untuk memberikan anak keterampilan tambahan seperti bahasa asing, berikan ia pelatihan di tempat kursus bahasa Perancis di Jakarta yang terbaik.