Categories
Parenting

Aku Melahirkan Di Mana, Ya Bag2

PERTIMBANGAN MEMILIH Standar cocok bagi setiap orang tentu berbeda-beda. Tapi, ada beberapa pertimbangan umum yang paling sering dijadikan patokan, yaitu: ‘ KEBERADAAN DOKTER YANG SELAMA INI MENDAMPINGI MAMIL Banyak Mama yang melahirkan di rumah sakit tempat dokter obginnya berpraktik, meski ada rumah sakit lain yang lokasinya lebih dekat dengan rumahnya.

Baca juga : Kerja di Jerman

Keberadaan dokter langganan tentu akan membuat Mama merasa lebih aman. Ini bisa dimaklumi karena dokter langganan tahu persis kondisi kesehatan dan kehamilan Mama sejak minggu pertama sampai minggu terakhir. Memilih rumah sakit yang ada dokter langganan adalah pilihan bijak. Namun, jika rumah sakit tempat praktiknya terlalu jauh dari rumah dan Mama takut terjadi hal-hal yang membahayakan menjelang persalinan jika menempuh jarak jauh, mintalah rujukan dan rekomendasi kepada dokter langganan agar Mama bisa melahirkan di rumah sakit yang jaraknya lebih dekat dari rumah. ‘

BIAYA Cari info perbandingan biaya persalinan, baik normal maupun sesar, dari dua atau tiga rumah sakit terdekat. Pilih yang sesuai dengan kondisi keuangan, selain juga kondisi kesehatan Mama dan janin tentunya. ‘ TENAGA MEDIS Bagi Mama yang kehamilan dan kesehatannya bermasalah, misal menderita diabetes gestasional, konsultasikan kepada dokter obgin, risiko apa yang mungkin dialami pada proses persalinan dengan kondisi tersebut.

Tanyakan juga, jika terjadi risiko yang dikhawatirkan, apakah ada dokter-dokter ahli yang dibutuhkan untuk menolong Mama mengatasi risiko-risiko itu. Mamil dengan diabetes, umumnya berisiko melahirkan bayi berukuran besar. Tidak menutup kemungkinan juga mengalami tekanan darah tinggi atau preeklamsia, kejang, dan stroke akibat pembekuan darah ataupun perdarahan di otak.

Penatalaksanaan diabetes dilakukan seFara terpadu oleh dokter spesialis penyakit dalam, dokter obgin, ahli gizi, dan dokter spesialis anak. Sedapat mungkin, carilah rumah sakit yang dapat menyediakan perawatan adekuat. ‘ FASILITAS MEDIS Selain memiliki fasilitas lengkap untuk persalinan normal, rumah sakit/bersalin tersebut hendaknya juga memiliki fasilitas ruang operasi. Tentunya fasilitas medis yang tersedia bukan hanya untuk Mama saja, tapi juga untuk bayi yang akan Mama lahirkan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Categories
Parenting

Tanpa Kekerasan

Shireen sungkar, mama dari teuku adam al-fatih (1,8) Istri dari aktor Teuku Wisnu Yusar (30) ini bercerita, meski dibantu oleh babysitter, 80% pengasuhan tetap ia tangani sendiri. “Adam anak saya, jadi dia harus tumbuh dan berkembang dengan pola asuh saya juga suami, bukan pengasuh atau lainnya.” Belajar dari banyak sumber, pelatihan parenting, diskusi, dan media, Shireen merasa mendapat masukan berharga tentang ilmu membesarkan anak.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

“Yang paling gampang, soal melarang. Melarang anak itu boleh, tapi tidak dengan kekerasan. Sebab, anak yang tumbuh dalam dunia penuh kekerasan, bisa tumbuh menjadi anak minder, penuh ketakutan, dan kurang berani. Itu, kan, bahaya bagi perkembangannya.” Shireen memberi contoh, soal menonton televisi.

“Adam boleh nonton teve, tapi tidak boleh lama. Saya tetapkan waktunya satu kali di sore hari. Cara menghentikan juga tidak mudah, saya selalu bilang ‘Nontonnya sudah ya, Nak. Lima menit lagi. Setelah waktunya tiba, saya akan bilang, ‘Sekarang sudah ya, tevenya Bunda matiin.” Dengan adanya komunikasi dan pendekatan seperti itu, menurut Shireen, anak akan lebih bisa menerima.

“Jadi boleh saja bilang no, tapi no-nya itu harus baik dan ada penjelasannya, ‘No Adam, jangan ditarik kabelnya. Nanti kabelnya lepas, Adam bisa kesetrum.” Bagaimana dengan gaya pengasuhan orangtua Shireen dulu? “Aku besar dengan banyak larangan dan aturan. Jam segini harus begini, jam segini harus begitu; jam belajar, handphone diambil. Tapi bukan berarti galak, ya. Papaku sangat tegas dan disiplin. Caranya saja mungkin yang berbeda, he he he…” Shireen mengaku, orangtuanya tidak memanjakannya dengan berbagai fasilitas.

Saat di sekolah, teman-teman lain jajan, dirinya dan kakaknya dibiasakan untuk membawa bekal dari rumah. “Papa mendidik saya harus berjuang dan berusaha dulu demi mendapatkan keinginan. Contoh, saya harus berprestasi di sekolah, sebelum dibelikan handphone.” Nah, karena seperti itu, menurut Shireen, sejak usia 15 tahun dirinya sudah bisa cari uang sendiri. Dirinya bisnis, membuat kerajinan dari sabun, lalu dijual kepada teman-temannya.

“Ayah dan Mama sangat mendukung, lo, saya melakukan itu.” Soal disiplin, ia pun sudah menerapakan pada buah hatinya. “Hanya saja caranya yang berbeda dengan yang diterapkan Papa pada saya. Contoh, sejak bayi setiap jam tujuh malam, Adam sudah saya ajak ke kamar, lampu kamar dimatikan. Dia tahu kalau sudah seperti itu berarti saatnya tidur.”

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Categories
Parenting

Founder Akademi Berbagi

Pada 2010, Ainun Niswati Chomsun (42) mempunyai keinginan untuk belajar kepada para praktisi di bidangnya masing-masing. Tapi sayang, mama dari Haiqa Matahati alias Kika (12) ini tak bisa menemukan tempat yang diharapkan. “Keba nyakan karena mahal atau bukan praktisi yang mengajar,” terangnya. Nah, karena di tahun itu ia melihat banyak praktisi dari berbagai latar keahlian bertwitter ria, “Saya memberanikan diri untuk menyapa dan meminta belajar dari mereka.”

Baca juga : tes toefl Jakarta

Ternyata, lanjutnya, mereka menyambut dengan baik. Setelah merasakan asyiknya mendapat pelatihan dari para pakarnya langsung, maka pada Juli 2010, ia berinisiatif mendirikan wadah untuk semua orang yang mau belajar apa pun dari pakarnya langsung, seperti: fotografi , menulis, advertising, dan masih banyak lainnya , dengan nama Akademi Berbagi . “Peserta dan pengajarnya, saya jaring dari Twitter. Begitu juga tempat pertemuan yang dipinjam secara gratis,” jelas Ainun. Sesuai dengan namanya, juga tujuannya untuk sosial, “Sejak pertama dimulainya kelas, Akademi Berbagi hingga sekarang tidak memungut biaya sepeser pun kepada peserta, juga tidak memberikan bayaran kepada pengajar.”

Walau serbagratis, semuanya mendapat manfaat nyata dan berharga. “Di Akademi Berbagi, saya dan semua yang terlibat, tanpa kecuali, mendapat networking luas, baik secara geografi s maupun strata.T %ahkan, tambah Ainun, jaringan Akademi Berbagai sekarang ini tak bisa dianggap sebelah mata; dari CEO, profesional, pengusaha, artis, mulai Aceh hingga Bali, sudah terkoneksi dengan Akademi Berbagi.

Gagasan Ainun mendirikan Akademi Berbagi membuktikan bahwa di Indonesia tak sedikit orang yang mau belajar banyak hal dan tak sedikit pula orang/praktisi ahli yang bersedia berbagi ilmu. “Sekarang Akademi Berbagi tidak saja ada di Jakarta, tapi juga di Aceh, Medan , Padang, Pelembang, Bekasi, Depok, Bandung, Semarang, Solo, Pekalongan, Malang, Labuan Batu, Pekan Baru. Pokoknya, sudah ada di 50 kota,” papar Ainun. Kelas Akademi Berbagi juga bertambah. “Sudah ada 1.000 kelas, 150 guru, dan 5.000 murid untuk seluruh Indonesia,” tambahnya. Ainun mengaku sangat senang dan bangga melihat Akademi Berbagi berkembang pesat.

Pasalnya, dari situ bisa lebih banyak lagi orang Indonesia yang dapat belajar, sehingga semakin banyak pula orang Indonesia yang memi liki kemampuan hebat sharing dengan sesama. Kiprahnya ini mendapat dukungan dari keluarga. “Saya sebenarnya besar di lingkungan keluarga yang senang berbagi. Ibu saya juga memiliki sekolah un tuk anak-anak tidak mampu dan aktif di organisasi sosial.” Dengan bahasa lain, melakukan aksi sosial sudah menjadi hal yang biasa bagi Ainun. Karena nyalah, Kika menurut Ainun, walau belum membantu aktivitas dirinya di Akademi Ber bagi, tapi sudah sering diajak-ajak dalam kegiatan Akademi Berbagi.

Sumber : pascal-edu.com

 

Categories
Parenting

Jika Tak Setuju Cium Bibir

Memang tak semua keluarga menyetujui cium di bibir antara orangtua dan anak. Namun jika hal ini terjadi oleh si kecil Mama, jangan langsung bereaksi negatif, ya. Sebab, reaksi yang Mama berikan merupakan sumber “pelajaran” yang akan diserap si kecil dan dapat memengaruhi pemahamannya kelak mengenai perilaku cium di bibir dan ekspresi kasih sayang. Baiknya Mama Papa bertanya terlebih dahulu, kenapa anak ingin dicium di bibir. Hal ini dilakukan untuk membantu orangtua mengetahui alasan anak menginginkan perilaku tersebut.

Sebab, orangtua tidak melakukan hal yang sama dan tidak mengajarkan perilaku tersebut kepada si kecil. Orangtua juga perlu mengetahui darimana anak mengetahui perilaku tersebut. Tujuannya, untuk mengetahui paparan informasi yang telah ditangkap oleh anak, apakah mungkin orangtua sendiri yang tanpa sengaja memaparkan informasi tersebut atau media yang melakukannya, sehingga orangtua dapat mulai membatasi diri dan paparan media dari anak-anak.

Info ini berguna selain untuk mengetahui kebutuhan afeksi anak, juga untuk mendeteksi ada kah orang lain (selain orangtua) yang melakukan hal itu kepada anak, sehingga anak ingin mendapatkan pengulangan perilaku cium yang pernah didapatkan. Jika ternyata anak pernah mendapatkan perlakuan tersebut dari orang lain di luar keluarga inti, penting bagi orangtua untuk membatasi membantasi kontak fisik orang luar (di luar orangtua) dengan anak tanpa pengawasan orangtua.

Ketika menolak permintaan anak, jangan melakukannya dengan kasar, apalagi menunjukkan ekspresi kurang baik. Sampaikan dengan perlahan dan logis serta penuh kasih sayang bahwa perilaku itu berbahaya karena dapat mengganggu kesehatan. Beri tahu si kecil, bakteri pembawa penyakit tidak tampak oleh mata biasa, sehingga orang yang tampak sehat pun sebenarnya bisa membawa kuman penyakit. Jangan lupa mengajari anak bahwa tidak mencium anak di bibir bukan berarti orangtua tidak sayang, tapi rasa sayang bisa ditunjukkan dengan perilaku lain secara verbal (umpama, dengan mengatakan, “Mama sayang Adek,”) atau secara non-verbal yang lain (seperti: membelai, memeluk, merangkul, dan sebagainya).

Untuk memberikan anak keterampilan tambahan seperti bahasa asing, berikan ia pelatihan di tempat kursus bahasa Perancis di Jakarta yang terbaik.